Tes Psikologi : Pengertian, Sejarah, Jenis, dan Tips Menghadapinya

0
852

Tes psikologi kerap menjadi momok, khususnya bagi pelamar pekerjaan. Hal ini kemudian membuat beberapa orang mencoba membaca buku latihan soal yang berkaitan dengan tes psikologi. Namun, kadang buku yang kita baca juga tidak sesuai dengan yang diinginkan. Lantas, apa yang harus dilakukan untuk menghadapi tes psikologi?

Sebagian orang mungkin ketakutan saat akan menghadapi tes psikologi, terutama saat akan melamar pekerjaan. Berbagai macam cara pun dilakukan agar hasil tes psikologi berakhir memuaskan. Ada yang santai, ada juga yang menghadapinya dengan tegang. Daripada Anda tegang sendiri, lebih baik cari tahu dulu tentang seperti apa tes psikologi itu.

Apa itu Tes Psikologi?

Secara ilmiah tes psikologi adalah ukuran yang objektif dan standar dari contoh tingkah laku. Contoh tingkah laku maksudnya kinerja individu pada tugas-tugas yang biasa dikerjakan sebelumnya. Serangkaian tes untuk mengetahui contoh tingkah laku yang paling umum biasanya adalah tes tulis atau bisa juga melalui wawancara.

Setiap tes akan diberikan skor. Skor yang dihasilkan kemudian diyakini sebagai konstruksi psikologis seperti prestasi, kemampuan kognitif, bakat, fungsi emosional, kepribadian, dan lain sebagainya. Perbedaan skor tes kemudian akan dianggap sebagai cerminan dari perbedaan individu dalam membangun tes tersebut.

Tes psikologi dirancang untuk mengukur konstruksi yang tidak teramati, yang dikenal juga dengan sebutan variabel laten. Jenis tes ini merupakan serangkaian masalah yang harus dipecahkan oleh responden, biasanya dapat berupa kuesioner. Dalam melakukan tes psikologi data yang didapatkan haruslah data valid serta didukung oleh bukti-bukti yang kuat sehingga dapat diandalkan.

Di dunia kerja, tes psikologi penting digunakan untuk mengetahui bagaimana kepribadian calon karyawan. Misalnya sebuah perusahaan sedang membuka lowongan kerja untuk posisi akuntan. Kemudian ada 300 orang yang melamar untuk posisi tersebut. Tetapi perusahaan hanya membutuhkan 5 orang saja. Lalu bagaimana cara menyaring calon karyawan tersebut?

Untuk menyaring sekian banyak pelamar tersebut, maka diperlukan metode khusus. Tentu wawancara terhadap 300 pelamar tidak mungkin dilakukan karena itu akan menghabiskan banyak waktu.

Asal pilih juga bukan cara terbaik karena jangan sampai pelamar yang dipilih justru bukanlah orang yang tepat untuk mengisi posisi di perusahaan tersebut. Jadi solusi terbaik adalah dengan cara menggunakan metode tes psikologi.

Tes psikologi ini memiliki fungsi utnuk menyeleksi pelamar sehingga akan ditemukan orang-orang yang memang benar-benar mampu menduduki posisi yang dimaksud. Dengan tes ini, psikolog juga akan mengetahui apa saja potensi dan kekurangan seseorang tanpa perlu bertatap muka secara langsung dengan orang yang bersangkutan.

Kapan Tes Psikologi Mulai Ada?

Tes psikologi berskala besar pertama kali digunakan oleh kekaisaran Cina. Gunanya tidak lain untuk menilai setiap kandidat berdasarkan kemampuan mereka dalam topik-topik seperti hukum perdata dan kebijakan fiskal.

Sementara itu, tes lainnya hanya dibuat berdasarkan hiburan semata. Tes Psikologi secara modern dilakukan di Prancis pada abad ke-19. Hal ini dilakukan untuk memisahkan orang berpenyakit mental, serta mengurangi pengabaian, penyiksaan, dan ejekan yang menumpuk pada masyarakat.

Jenis-Jenis Tes Psikologi

Saat ini, hampir semua perusahaan menggunakan tes psikologi sebagai bagian dari tahapan penerimaan calon karyawan. Ketidakpastian menjadi hal yang unik dari tes ini. Hal itu dikarenakan faktor ini dapat memutarbalikkan perhitungan logis seseorang.

Misalnya, Devi seorang lulusan perguruan tinggi terbaik dengan IPK 3,5. Ia memiliki pengalaman sebagai asisten dosen, tetapi justru tidak mampu melewati tes psikologi. Ironis memang namun inilah faktanya. Tes psikologi merupakan tantangan tersendiri bagi para pemalar kerja.

Sebenarnya tes Psikologi terdiri dari beberapa jenis. Untuk lebih jelasnya berikut merupakan jenis-jenis tes psikologi.

1. Intelligence tests

Intelligent tests atau tes kecerdasan digunakan untuk mengukur kecerdasan atau kemampuan seseorang untuk memahami lingkungan, berinteraksi dengannya dan belajar darinya. Tes kecerdasan meliputi Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS), Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC), dan Stanford-Binet Intelligence Scale (SB)

2. Personallity tests

Personality tests atau tes kepribadian digunakan untuk mengukur kepribadian dan sifat-sifat dari seseorang. Tes kepribadian yang paling umum digunakan adalah Tes MMPI (MMPI), dan Tematik Apperception Test (TAT).

3. Attitide test

Attitude test atatu tes sikap digunakan untuk mengukur apa yang seseorang rasakan tentang suatu peristiwa tertentu, tempat, orang atau objek.

4. Achievment tests

Achievement tests atau tes prestasi digunakan untuk mengukur seberapa baik seseorang dalam memahami suatu topik tertentu seperti misalnya matematika. Achievment tests meliputi Wechsler Individual Achievement Test (wiat), dan Peabody Individual Achievement Test (PIAT),

5. Aptitude tests

Aptitude tests atau tes bakat digunakan untuk mengukur kemampuan seseorang pada area yang spesifik seperti misalnya keterampilan dalam bidang administrasi. Aptitude tests ini meliputi Bloomberg Aptitude Test (BAT) dan Armed Services Vocational Aptitude Battery (ASVAB).

6. Neuropsychological tests

Neuropsychological tests atau tes neuropsikologi digunakan untuk anak-anak dan remaja yang mengalami cedera traumatis pada otak, kerusakan otak, atau masalah neurologis organik lainnya.

Tes ini diberikan untuk mengidentifikasi gangguan-gangguan mental. Neuropsychological tests uga dapat digunakan untuk mengevaluasi kemajuan pasien yang menjalani perawatan atau rehabilitasi terkait cedera neurologis.

7. Public safety employment tests

Public safety emplyment tests digunakan dalam bidang keselamatan publik, seperti pemadam kebakaran, penegak hukum, serta layanan medis darurat. Tes ini meliputi National Firefighter Selection Inventory – NFSI, National Criminal Justice Officer Selection Inventory – NCJOSI, dan Integrity Inventory.

8. Infant and Preschool Assessment

Infant and preschool assessment digunakan untuk bayi dan anak-anak pra sekolah yang memiliki kemampuan terbatas dalam berkomunikasi. Para psikologi tidak bisa menggunakan tes biasa untuk menilai mereka. Maka dari itu banyak tes yang memang ditujukan khusus untuk anak-anak usia lahir sampai usia enam tahun.

Tes ini biasanya bervariasi tergantung dengan usia masing-masing anak, penilaian refleks, tahap perkembangan untuk sensorik, keterampilan motorik, kemampuan bahasa, dan keterampilan kognitif.

9. Objective tests

Objective tests atau tes objektif memiliki respon yang terbatas, seperti kemungkinan untuk jawaban benar dan salah atau rating mengunakan Skala Ordinal. Contoh dari objective tests meliputi Minnesota Multiphasic Personality Inventory, Millon Clinical Multiaxial Inventory-III, Child Behavior Checklist, Symptom Checklist 90, Beck Depression Inventory.

10. Projective tests

Projective tests atau tes proyektif memungkinkan jenis yang lebih bebas dari respon. Tes ini bisa digunakan untuk menciptakan kesimpulan sebagai tindak lanjut dari metode lain. Projective test meliputi Exner system of scoring, Thematic Apperception Test (TAT), House-Tree-Person test, dan Animal Metaphor Test.

11. Sexological tests

Sexological tests atau tes seksologi digunakan untuk mengetahui sekssualitas seserorang yang terkait dalam beberapa aspek seperti biologis, reproduksi, budaya, hiburan, serta hubungan dan cinta.

12. Direct observation tests

Direct observation tests atau tes pengamatan langsung biasanya melibatkan orang- orang si sekitar. Jenis tes ini biasanya dilakukan oleh keluarga atau orang-orang terdekat. Tes ini digunakan untuk mempelajari hubungan antara variabel intrapsikis dan prilaku target khusus.

13. Interest tests

Interest tests atau tes minat digunakan untuk menilai kepentingan dan preferensi seseorang. Tes ini biasa digunakan untuk konseling karir. Tes ini menarik karena berkaitan dengan kegiatan sehari-hari dari pelamar kerja. Alasannya jika seseorang menunjukkan minat yang sama saat mengambil pekerjaan tertentu, maka kemungkinan besar orang tersebut akan menemukan kepuasan dari pekerjaan tersebut. Tes psikologi ini banyak digunakan dalam penilaian karir, konseling, dan bimibingan pendidikan.

14. Biographical Information Blank

Tes psikologi ini berbentuk kertas yang berisi tentang riwayat hidup pribadi dan pekerjaan. Hal ini digunakan untuk membantu proses perekrutan karyawan dengan mencocokkan latar belakang individu dengan persyaratan pekerjaan.

Cara Menghadapai Tes Psikologi Lisan

Tujuan dari tes psikologi adalah untuk mengetahui kemampuan mental termasuk kecerdasan, kepribadian, sikap, prestasi, bakat dan fungsi neurologis seseorang. Tujuannya bagi calon karyawan adalah untuk mengidentifikasi kecerdasan, kepribadian dan bakat seseorang. Tes ini dapat digunakan dalam menentukan kekuatan dan kelemahan seseorang.

Tes Psikologi memang bisa membuat seseorang merasa takut dan panik. Rasa panik pun semakin menjalar kala waktu tes kian mendekat. Tetapi panik hanya akan membuat seseorang menjadi tidak tenang hingga menghilangkan konsentrasi.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat ingin melakukan tes psikologi. Dalam hal ini tes psikologi yang dimaksud adalah tes psikologi lisan atau wawancara yang seringkali dianggap sebagai tes yang lebih sulit dibanding tes psikologi tertulis karena pihak HRD perusahaan langsung bisa menilai pelamar hanya dari melihat gerak-geriknya. Nah, berikut beberapa tips menghadapi tes tersebut. 

1. Pikirkan tentang persyaratan kerja

Saat ini proses perekrutan karyawan menjadi semakin kompleks seiring dengan semakin banyaknya tenaga kerja yang kompetitif. Hal ini pun mendorong sebagian besar perusahaan menggunakan tes Psikologi untuk menentukan apakah seseorang tersebut merupakan kandidat terbaik dalam perekrutan karyawan. Tes ini diperlukann untuk mengetahui kualifikasi yang dimiliki para pelamar.

Misalnya Anda sedang mencari pekerjaan sebagai seorang akuntan, maka pewawancara akan memastikan bahwa Anda memiliki keterampilan menghitung yang kuat dan merupakan akuntan yang sangat baik.

2. Pertimbangkan karakteristik pribadi

Hal ini perlu dilakukan sebagai pesiapan untuk personality test. Pikirkan alasan mengapa Anda melamar pekerjaan tersebut. Salah satu alasanya mungkin karena Anda memenuhi syarat dan watak yang tepat untuk karir tersebut.

Misalnya, Anda melamar pekerjaan untuk posisi eksekutif, Anda tahu bahwa posisi ini membutuhkan sikap kepemimpinan. Oleh karena itu, Anda meningkatkan karakter kepemimpinan tersebut. Coba pikirkan hal tersebut. Ini akan membantu Anda untuk memutuskan jawaban yang sesuai.

Menjadi diri sendiri saat menjawab pertanyaan sangat penting. Tapi perlu diingat bahwa Anda sedang dites. Misalnya pewawancara bertanya apakah Anda ingin mencuri jika tak ada yang melihat, maka Anda harus menjawab tidak meskipun sebenarnya ingin. Jangan katakan hal semacam itu saat wawancara.

3. Ketahui apa yang dibutuhkan perusahaan

Selama proses wawancara berlangsung, Anda tidak boleh terlalu menonjolkan kelebihan yang Anda miliki. Anda hanya perlu menjelaskan tentang keuntungan apa yang akan diperoleh perusahaan jika Anda diterima. Pikirkan bagaimana cara untuk meningkatkan produktivitas perusahaan jika Anda diterima. Anda harus tahu apa yang perusahaan butuhkan, karena hal itu akan tampak pada hasil tes nanti.

Sebelum melakukan tes, tanyakanlah pada pewawancara tentang apa yang paling penting pada perusahaan. Lalu foskuslah pada jawaban Anda saat menyampaikan hal tersebut.

4. Lakukan praktek sendiri

Anda tentu tidak tahu apa yang akan ditanyakan oleh pewawancara nanti. Tapi, Anda bisa melakukan persiapan dengan cara membuat format sendiri. Tes psikologi biasanya berupa kuesioner atau wawancara langsung. Saat wawancara berlangsung pewawancara juga bisa membaca ekspresi dari wajah Anda saat menjawab pertanyaan.

Anda bisa mencoba tes praktek secara online. Pastikan untuk memilih situs terkemuka dan valid. Bisa juga Anda meminta bantuan dari seorang teman untuk memberikan Anda pertanyaan. Hal ini cukup bisa memberikan pencerahan yang bermanfaat.

5. Bersiaplah untuk melakukan tes

Datanglah tepat waktu dalam keadaan yang rapi. Pastikan untuk membawa apa saja yang diminta. Luangkan hari Anda khusus untuk tes sehingga Anda bisa lebih fokus dan tidak tergesa-gesa kalau proses tes ternyata berjalan lama. Jangan lupa sarapan karena jika Anda lapar maka itu akan mengurangi konsentrasi.

6. Ajukan pertanyaan

Anda boleh mengajukan pertanyaan selama tes. Hal ini baik untuk mengetahui siapa yang memiliki hak untuk mengelola hasil Anda. Jika pertanyan tidak jelas, maka jangan sungkan untuk mengklarifikasi pertanyaan.

Dalam hal ini, bukan hanya jawaban Anda yang sedang dievaluasi. Tetapi seluruh hal-hal personal pada diri Anda juga sedang jadi bahan pertimbagan. Pastikan bahwa posisi badan Anda tetap profesional dan tetap percaya diri. Jika bingung, berpikirlah beberapa detik untuk mengumpulkan kembali pirkiran Anda. Alasan untuk ke toilet juga bisa Anda gunakan. Jadi Anda bisa menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

8. Jujurlah

Jangan berusaha menjadi orang lain. Karena itu akan membuat Anda menjadi tidak jujur. Ini bukanlah hal baik untuk mendapatkan pekerjaan. Tentu Anda juga tak ingin jika atasan Anda nantinya berharap lebih banyak sementara Anda tak mampu memenuhinya.

Anda bisa saja berbohong saat wawancara tetapi jika sudah bekerja maka segala hal palsu tersebut akan terungkap dengan sendirinya. Ini bukanlah tes dengan jawaban benar atau salah. Sikap tidak jujur hanya akan membuat Anda rugi.

9. Berpikir seolah bos

Berpikirlah seolah Anda adalah seorang bos. Coba pikirkan apakah Anda akan menerima calon karyawan yang seperti Anda. Ingatlah, Seorang atasan mempekerjakan Anda bukan semata-mata untuk kesenangan mereka.

Tujuan sebenarnya dari tes psikologi ini adalah untuk membantu mereka merekrut calon karyawan terbaik. Cobalah melihat bahwa tes ini sebenarnya dapat menguntungkan Anda. Pikirkan bahwa apakah ini tempat Anda melamar kerja adalah tempat terbaik untuk menunjukkan potensi Anda.

10. Pahami validitas

Ilmu psikologi bukanlah ilmu pasti sehingga hasil dari ujiannya bukanlah sesuatu yang mutlak. Anda perlu tahu bahwa calon atasan Anda akan menggunakan hasil tes sebagai salah satu faktor dalam merekrut karyawan. Jadi jangan ragu untuk menanyakan tentang hasil tes yang akan dipertimbangkan untuk memilih kandidat terbaik.

11. Bersiaplah apapun nanti hasilnya

Bisa jadi Anda lolos atau bisa juga tidak. Ingatlah bahwa ketika Anda gagal itu karena Anda bukanlah orang yang cocok untuk mengisi posisi tersebut. Mungkin saja Anda tidak termasuk dalam kriteria yang diperlukan. Namun, bukan berarti Anda tidak perlu mencari kerja. Tetaplah mencari hingga Anda menemukan pekerjaan impian.

Jadi lakukan saja tes psikologi secara natural. Sesuaikan dengan kondisi Anda. Semoga artikel tentang tes psikologi ini bermanfaat bagi Anda.